Perancangan Identitas Visual Kawasan Agrowisata Belimbing Dewa Kota Depok

Fauzi Ali Alatas, Wirania Swasty

Abstract

Abstrak Kawasan Agrowisata Belimbing Dewa dulu adalah salah satu yang menjadi ikon Kota Depok tapi sekarang mulai tidak terdengar lagi, hal tersebut dikarenakan belum ada identitas visual yang jelas terhadap Agrowisata Belimbing Dewa. Kurangnya perhatian dan arahan pemerintah yang terkait juga menjadikan Kawasan Agrowisata Belimbing Dewa semakin tahun semakin menurun. Agrowisata Belimbing Dewa masih sangat berpotensi jika dikembangkan untuk dijadikan objek wisata alam di Kota Depok. Maka dari itu identitas visual menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk mengenalkan Kawasan Agrowisata Belimbing Dewa tersebut. Perancangan identitas visual Kawasan Agrowisata Belimbing Dewa dalam periode AgusutsJanuari 2019 menjadi tujuan dari penelitian ini. Penelitian dilakukan di Bandung dan Depok menggunakan metode data pustaka, observasi, wawancara, dan kuesioner serta dilakukan analisis dengan matriks perbandingan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Kawasan Agrowisata Belimbing Dewa Kota Depok memerlukan identitas visual yang tepat agar citra dari Kawasan Agrowisata Belimbing Dewa Kota Depok membaik dan dikenal masyarakat luas. Kata kunci : Agrowisata, Kota Depok, Belimbing Dewa, identitas visual Abstract Belimbing Dewa Agro Tourism area was one of the icons of the City of Depok but now it is no longer heard, because there is no clear visual identity towards the Belimbing Dewa Agro Tourism. The lack of attention and direction from the government that is related also makes the Belimbing Dewa Agro Tourism Area progressively decrease. Belimbing Dewa Agro Tourism is still very potential if it is developed to be a natural tourism object in Depok City. from that visual identity becomes very necessary to introduce the Belimbing Dewa Agro Tourism Region. The design of visual identity of the Belimbing Dewa Agro Tourism Area in the Agusuts-January 2019 period was the aim of this study. The study was conducted in Bandung and Depok using the method of library data, observation, interviews, and questionnaires as well as an analysis using a comparison matrix. The results obtained from this study are the Depok Belimbing Dewa Agro Tourism Area needs an appropriate visual identity so that the image of the Depok Belimbing Dewa Agro Tourism Area improves and is known to the wider community. . Keywords: Agro-tourism, Depok, Belimbing Dewa, visual identity ISSN : 2355-9349 e-Proceeding of Art & Design : Vol.7, No.1 April 2020 | Page 125 1. Pendahuluan Kota Depok sudah lama dikenal sebagai Kota Belimbing Dewa. Sebutan tersebut sudah ada pada tahun 2007, hingga tepat pada tanggal 29 oktober 2007 telah diresmikan bahwa buah belimbing dewa menjadi ikon bagi Kota Depok. Belimbing dewa sendiri tercipta pada sekitar tahun 1999-2000, dengan hasil persilangan antara buah belimbing bangkok dengan belimbing dewi dan menjadi belimbing dewa. Buah belimbing dewa mengandung vitamin C yang baik untuk menjaga daya tahan tubuh, dapat menurunkan kolestrol, menurunkan darah tinggi yang akan menjaga kesehatan jantung, untuk kecantikan, dan mencegah penyakit kanker. Selain dalam bentuk bauh, belimbing dewa mulai di olah menjadi jus belimbing, sirup belimbing, dodol belimbing dan keripik belimbing. Kawasan Agrowisata Belimbing Dewa Kota Depok sejak 2007 sampai sekarang masih belum memiliki identitas visual. Agrowisata Belimbing Dewa memiliki peluang untuk dijadikan objek wisata di Kota Depok, maka dari itu identitas visual menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk membentuk citra dari Agrowisata Belimbing Dewa. Dengan adanya objek wisata alam di tengah kota menjadi potensi yang besar juga, karena dapat digunakan untuk memperkenalkan buah belimbing dewa kepada masyarkat luas yang belum mengetahuinya. Hal tersebut berdampak kepada masyarkat yang ingin mengetahui belimbing dewa dengan mengunjungi Kawasan Agrowisata Belimbing Dewa Kota Depok dan merasakan sensasi memetik buah belimbing langsung dari pohonnya. 2. Kajian Teori Logo berasal dari bahasa Yunani yaitu logos yang memiliki arti kata, pikiran, pembicaraan, dan akal budi. Menurut Wirania Swasty (2016:41), logo bisa berupa rangkaian huruf, gambar, atau gabungan huruf dan gambar yang mampu merepresentasikan identitas visual. Logo yang menggunakan huruf disebut dengan logotype. Sedangkan logo yang menggunakan gambar disebut logogram. Menurut Jacob Cass dalam Swasty (2016:43) terdapat beberapa prinsip dalam proses perancangan sebuah logo, antara lain: (1) Logo harus mampu mendeskripsikan perusahaan maupun produk. (2) Logo harus tetap efektif dan menarik sekalipun dicetak hitam putih. (3) Sederhana dan mudah diingat (memorable) (4) Logo masih dapat terbaca dan dikenali meskipun dalam ukuran kecil. Karakter atau maskot adalah bagian dari simbol merek yang biasanya berupa karakteristik manusia atau makhluk hidup yang diperkenalkan melalui iklan maupun kemasan (Swasty, 2016:47). karakter/maskot berfungsi untuk mencerminkan identitas merek dengan sosok visual dari nama merek. menurut Swasty (2016:48) karakter/maskot memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Membantu mengidentifikasi dan mengenali merek. (2) Menjamin merek. (3) Memberikan daya tahan merek. (4) membedakan dan personalisasi. Signage and wayfinding dapat disajikan berupa tanda atau simbol yang telah tersusun menjadi bentuk visual yang terdapat informasi serta memberi arahan kepada pengunjung untuk sebuah tujuan. Signage and wayfinding sering dianggap tidak memiliki perbedaan. tetapi, signage dapat dijelaskan dengan tujuan untuk membantu orang untuk menemukan arah mereka pada sebuah lingkungan melalui sebuah tanda. Sedangkan wayfinding yang efektif lebih dari sebuah signage. Seperti halnya jalur yang jelas dan isyarat visual lainnya yang didalamnya terdapat landmark yang menonjol sebagai point of interest atau bisa juga sebuah infografis/peta yang telah dicetak. Signage and wayfinding dapat menjadi sarana penyampaian informasi yang efektif dalam sebuah lokasi sehingga ISSN : 2355-9349

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.